Jumat, 21 Desember 2012

Sintaksis (Mikro Linguistik part 3)


Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan, kalimat diucapkan diucapkan dengan suara naik turun dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir yang diikuti oleh kesenyapan yang mencegah terjadinya perpaduan ataupun asimilasi bunyi ataupun proses fonologis lainnya. Dalam wujud tulisan berhuruf latin, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik(.), tanda tanya(?), atau tanda seru (!); semesntara itu, di dalamnya disertakan pula berbagai tanda baca seperti koma(,), titik dua(J, tanda pisah (-), dan spasi. Tanda titik, tanya, dan seru, sepadan dengan intonasi akhir, sedangkan yang lain sepadan dengan jeda. Spasi yang mengikuti tanda titik, tanya dan seru melambangkan kesenyapan.   
Contoh : a) Hai Min!, b) Hai dan c) Parmin akan bermain ke Simpanglima. 
a.       Pola Kalimat Dasar
1)     S - P                        : Orang itu sedang tidur.
2)     S – P – O                : Rani mendapat hadiah.
3)     S – P – Pel              : Pancasila merupakan dasar negara kita.
4)     S – P – K                 : Kami tinggal di Jakarta.
5)     S – P – O – Pel       : Dian mengambilkan adiknya air minum.
6)     S – P – O – K          : Dian mengambil air minum di dapur.
7)     S – P – O – Pel – K : Dian mengambilkan adiknya air minum di dapur.
b.      Jenis Kalimat
1)   Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa. Hal itu berarti konstituen untuk setiap kalimat adalah satu subejk dan satu predikat.
Contoh:  Mereka akan membentuk kelompok belajar.
2)   Kalimat Berpredikat
a)         Kalimat Taktransitif
Kalimat yang tak berobjek dan takberpelengkap hanya memiliki dua unsur fungsi wajib, yakni subjek dan predikat. Pada umumnya, urutan katanya adalah subjek-predikat. Contoh : Padinya menguning.
b)     Kalimat Ekatransitif
Kalimat yang berobjek dan tidak berpelengkap mempunyai tiga unsur wajib, yakni subjek, predikat , dan objek. Predikat dalam kelompok verba ekatransitif adalah verba yang digolongkan dalam kelompok verba ekatransitif. Contoh : Pemerintah akan memasok semua kebutuhan Lebaran.
c)      Kalimat Dwitransitif
Verba transitif dalam bahasa Indonesia yang secara semantis mengungkapkan hubungan 3 maujud. Maujud itu maing-maing subjek, objek, dan pelengkap yang dinamakan verba dwitransitif. Contoh : Ida sedang mencarikan adikknya pekerjaan.
d)     Kalimat pasif
Contoh : Tugas itu harus mereka selesaikan. Contoh : Tugas itu harus mereka selesaikan.
e)      Kalimat Berpredikat Adjektival
Contoh: Alasan para pengunjuk rasa agak aneh.
f)       Kalimat Berpredikat Nominal
Contoh : Ini adalah masalah keluarga mereka sendiri.
g)      Kalimat Berpredikat Numeral
Contoh : Uangnya banyak sekali.
h)      Kalimat Tak lengkap
Contoh : Assalaamu’alaikum.
3)      Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat yang mempunyai minimal dau klausa.
Contoh : Pengurus KUD harus berwibawa, dan tidak sombong.
Kalimat majemuk ada dua macam, yakni: Kalimat majamuk setara dan kalimat majemuk bertingkat.
a)      Kalimat majemuk setara
Kalimat majamuk setara adalah kalimat yang memiliki dau klausa atau labeh dan kedudukannya sejajar / sederajat. Konjugtor yang dipakai seperti : dan, lalu, kemudian, tetapi, padahal, sedangkan, atau, baik... maupun ..., tidak ... tetapi..., bukan... melainkan... .
Kalimat majamuk setara ada tiga macam yang pertama setara menambah, setara perlawanan, dan setara memilih.
(1)   Setara Penambahan
Konjugtor yang dipakai adalah dan, kemudian, lalu, serta, sedangkan, padahal, baik... maupun... Contoh : Ibu hanya mengangguk – angguk, dan air matanya terus mengalir.
(2)   Setara Perlawanan
Konjugtor yang dipakai adalah tetapi, melainkan, dan namun, tidak / bukan saja, tidak / bukan hanya, tidak / bukan sekedar, jangankan. Contoh : Jangankan disuruh melawan membantahpun dia tidak berani
(3)   Setara Memilih
Konjugtor yang dipakai adalah atau. Contoh : Dia harus mengatakan yang benar sesuai dengan keyakinannya, atau berbohong untuk menyenangkan hati orang tuanya.
b)      Kalimat Majemuk Bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang memiliki dua klausa atau lebih yang kedudukannya tidak sejajar. Beberapa macam hubungan sematis pada kalimat majemuk bertingkat seperti berikut.
(1)   Hubungan Waktu
Konjugtor yang dipakai adalah sejak, sedari, sewaktu, ketika,          sambil, sementara, tatkala, dll.
Contoh : Aku tidak mengarti akan hal itu ketika aku masih anak.
(2)   Hubungan Syarat
Konjugtor yang dipakai adalah jika (lau), kalau, asal (kan), apabila, bilamana.
Contoh : Jika Anda mau mendengarkannya, saya tentu senang sekali menceritakanya.
(3)   Hubungan Pengandaian
Konjugtor yang dipakai adalah seandainya, andai kata, andaikan,    sekiranya, jangan – jangan, kalau – kalau.
Contoh :Seandainya para anggota kelompok menerima norma itu,    selesailah seluruh permasalahan.
(4)   Hubungan Tujuan
Konjugtor yang dipakai adalah agar, supaya, untuk, biar.
Contoh :Kami pergi biar dia bisa bebas berbuat sesukanya.
(5)   Hubungan Konsensif
Konjugtor yang dipakai adalah A.L walau (pun), meski (pun), sekalipun.
Contoh : Dia akan pergi sekalipun/biarpun kami mencoba menahannya.
(6)   Hubungan Perbandingan
Konjugtor yang dipakai adalah seperti, bagaikan, laksana, ibarat, sebagaimana
(7)   Hubungan Penyebaban
Konjugtor yang dipakai seperti sebab, karena, akibat, oleh karena.
(8)   Hubungan Hasil
Konjugtor yang digunakan seperti sehingga, sampai, sehingga (sampai),maka.
(9)   Hubungan Alat
Konjugtor yang dipakai adalah dengan dan tanpa.
(10)  Hubungan Komplementasi
Konjugtor yang dipakai adalah bahwa, kalimat langsung.
(11)  Hubungan Perbandingan
Konjugtor yang dipakai lebih/kurang... dari (pada)...
(12)  Hubungan Oktatif
Konjugtor yang dipakai adalah semoga/ moga – moga/ mudah – mudahan.
c.       Frasa
1)      Pengertian Frasa
Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang tidak melebihi batas fungsi.
 Contoh :  gedung sekolah itu
Frasa ada dua macam yaitu frasa endosentrik dan frasa eksosentrik. Kedua macam itu diuraikan seperti berikut ini.
2)      Frasa Endosentrik
Frasa endosentrik adalah frasa yang mempunyai distribusi atau kelas kata yang sama dengan semua unsur atau salah satu unsurnya.
 Contoh :  Buku baru
Frasa endosentrik ada 3 macam, yakni 1) endosentrik atributif, 2) endosentrik koordinatif, dan 3) endosentrik apositif.
a)      Frasa Endosentrik Atributif
Frasa Endosentrik Atributif adalah farsa yang salah satu unsurnya menjadi pusat dan yang lain menjadi bawahan.
Contoh :  buku baru
b)      Frasa Endosentrik koordinatif
Frasa Endosentrik koordinatif adalah frasa yang unsur – unsurnya memiliki kedudukan / kelas kata yang sejajar.
Contoh :  ayah ibu
c)      Frasa Endosentrik Apositif
Frasa Endosentrik Apositif adalah frasa yang salah satu bagiannya yang unsur – unsurnya bisa saling menggantikan.
Contoh :  Indonesia, tanah airku, ...
d)     Frasa Eksosentrik
Frasa Eksosentrik adalah frasa yang tidak mempunyai distribusi / kelas kata yang sama dengan unsur – unsurnya.
               Contoh :  di perpustakaan

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes