Jumat, 21 Desember 2012

Fonologi (Mikro Linguistik part 1)

Pengertian dan Pendekatan Fonetik
Pengertian Fonetik adalah adalah studi tentang bunyi-bunyi ujar.
Pendekatan Fonetik
Pendekatan fonetik ada 3 cara yaitu a) auditoris, b) akustis, dan c) artikulatoris.
Auditoris
Auditoris adalah penyelidikan mengenai kemungkinan bunyi-bunyi ditanggapi oleh alat pendengar/telinga ketika bunyi-bunyi bahasa itu dikumandangkan oleh pembicara. Karena cara ini sangat bersifat subjektif, orang yang berkepentingan merasa tidak mantap dan sukar dipertanggungjawabkan sebagai hasil penelitian ilmiah. Di samping itu, buku-buku yang menguraikan mengenai fonetik auditoris Itu sedikit sekali, dan keahlian yang dituntut sebenarnya adalah keahlian dalam ilmu kedokteran
Akustis
Dengan cara pendekatan akustis kita berusaha mempelajari bagaimana arus bunyi yang telah keluar dari rongga mulut atau rongga hidung atau kedua-duanya sipembicara merupakan gelombang-gelombang bunyi ujaran. Penyelidikan cara ini memerlukan pengetahuan ilmu-ilmu pasti karena bunyi-bunyi harus dideskripsikan dengan tanda-tanda angka atau rumus-rumus matematis. Kecuali kurang praktis, tidak semua ahli bahasa dapat menggunakan cara ini dan pada hakikatnya hanya bunyi-bunyi yang berupa gelombang-gelombang di uadara. Untuk itu, bagaimana mengucapkannya tidak dapat dilukiskan, yang dapat dilukiskan mungkin besarnya amplitudu getaran ketika terlepas mula-mula dari pita suara, maka hasil penyelidikan itu masih diragukan dalam terapannya. Selain itu, cara ini memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Contoh:
 Apabila kita memetik gitar, maka tali gitas akan bergetar   dan terjadilah bunyi yang dapat kita dengar.
Artikulatoris/Organik
Pendekatan artikulatoris adalah menyelidiki bagaimana   bunyi-bunyi bahasa itu dihasilkan oleh alat-alat (organ) si pembicara (organs of speech).
Cara ketiga ini yang memang mudah, praktis, dan dapat diberikan bukti-bukti datanya sehingga setiap orang dapat menerapkannya. Hampir semua gerakan alat-alat ucap itu dapat kita periksa, dari paru-paru, sekat rongga dada, tenggorokan, lidah, dan sampai bibir. Pekerjaan-pekerjaan alat-alat yang statis hampir semua dapat kita ‘rasakan’.

Proses Penghasilan Bunyi Bahasa
Pada umumnya bunyi dihasilkan dengan menghembuskan udara keluar dari paru-paru melalui rongga mulut dan atau rongga hidung.
Macam-macam alat ucap secara garis besar seperti berikut:
1) Artikulator ialah alat-alat yang mudah/dapat bergerak (bersifat dinamis), pada umumnya terdapat di bagian lidah dan bibir bawah.
2)    Titik artikulasi ialah alat-alat yang tidak/ sukar bergerak (bersifat statis).
Di samping itu, masih ada lagi yang merupakan keharusan ialah arus udara yang dialirkan keluar dari paru-paru.
Contoh penghasilan bunyi bahasa :
 Dalam  menghasilkan bunyi [c] misalnya dapat kita lihat kerjasama antara ketiga faktor tersebut di atas. Mula-mula udara mengalir dari paru-paru, sementara itu, ujung lidah (apex) bergerak menyentuh langit-langit keras akibatnya udara terhalang. Ujung lidah sebagai artikulator, sedangkan langit-langit keras sebagai titik artikulasi.

Klasifikasi Bunyi-bunyi Bahasa
Fona pada hakikatnya dapat digolongkan menjadi 2 yaitu fona segmental dan fona suprasegmental (prosodi). Masing-masing dapat dijelaskan seperti berikut.
1)    Fona Segmetal
Fona segmental ialah fona yang jelas warnanya, artinya batas artikulasinya dapat dianalisis satu dengan yang lain, sehingga secara relatif dapat digolongkan menjadi 2, yaitu:
(a)  Vokoid ialah fona segmental yang pada umumnya tidak mendapat halangan ketika    difonasikan dan bersuara.
(b)  Kontoid ialah fona-fona segmental yang umumnya mendapat halangan baik penutupan  maupun penyempitan pada artikulasi tertentu ketika dihasilkan atau difonasikan dan sebagaian bersuara, sebagian lagi tansuara.
2)    Fona Supra segmental
Fona supra segmental ialah fona yang sukar dikenal warnanya, hanya dapat dianalisis kualitasnya melalui fonasi fona-fona segmental; artinya fona-fona supra segmental itu hanya ada bersama-sama dengan fonasi fona-fona segmental. Oleh karena itu, fona supra segmental tidak mungkin dapat dianalisis terlepas dari fona-fona segmental.
Fona supra segmental dapat dirinci atas:
a)     Tekanan(stress)
b)     Panjang(length)
c)      Nada(pitch)
d)     Jeda(juncture)
e)     Intonasi terminal(terminal intonation).
      (akan dibicarakan lebih lanjut pada bagian lain).

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes